Jumat, 20 Januari 2012

PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP DALAM MENGHADAPI MENARCHE PADA SISWI SD ADVENT DI MINAHASA UTARA



BAB I
PENDAHULUAN

Masalah Penelitian Dan Latar Belakang Masalah
Masa remaja adalah masa transisi dari periode anak ke dewasa.  Apabila kita perhatikan dan kita ikuti perumbuhan anak sejak lahir sampai besar, akan didapati bahwa anak itu tumbuh secara berangsur-angsur bersamaan dengan bertambahnya umur. Demikian pula halnya dengan pertumbuhan dan perkembangan juga berkembang seiring dengan bertambahnya berbagai pengalaman dan pengetahuan yang didapatnya baik dari pendidikan keluarga, sekolah, maupun dari masyarakat dimana ia tinggal (Wawan, 2010).
Masa remaja, yakni antara usia 10-19 tahun, masa ini adalah  suatu periode masa pematangan organ reproduksi manusia, dan sering disebut masa pubertas. (Widyastuti, 2009). Pada masa remaja terdapat perubahan bukan hanya dalam arti perubahan psikologis tetapi juga fisik. Bahkan perubahan tersebut merupakan hal utama dalam pertumbuhan remaja, sedangkan perubahan psikologis muncul sebagai akibat dari perubahan fisik itu.
Perubahan fisik yang terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh (badan menjadi panjang dan tinggi), mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita) dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh (Sarwono, 2003).  Masa remaja dan menstruasi yang terjadi pada seorang remaja putri mempunyai kaitan yang erat. Bila seorang anak perempuan telah mengalami menstruasi yang pertama (menarche), maka dapat dikatakan bahwa anak perempuan tersebut telah memasuki remaja.
Terjadinya haid pertama (menarche) pada remaja putri usia 9-13 tahun, ada juga yang lebih dan berbagai penelitian menunjukkan bahwa munculnya masa pubertas dipengaruhi oleh status gizi dan kegiatan fisik. Hampir setiap remaja wanita yang mengalami haid pertama (menarche) akan mempunyai perasaan negative diantaranya takut, marah, bingung, merasa direpotkan (Vidiawati, 2003). Remaja putri membutuhkan informasi tentang proses menstruasi dan kesehatan selama menstruasi. Remaja putri akan mengalami kesulitan dalam menghadapi menstruasi yang pertama jika sebelumnya ia belum pernah mengetahui atau membicarakannya baik dengan teman sebaya atau dengan ibu mereka. Menarche menjadi hal yang penting bagi seorang wanita dan perlu mendapatkan perhatian khusus, karena
hal ini menandai awal kedewasaan biologis seorang wanita (Ezra, 2003).
Di Amerika sekitar 95% anak perempuan mempunyai tanda pubertas pada umur 12 tahun dan umur rata-rata 12,5 tahun.  Menarche atau menstruasi pertama merupakan salah satu perubahan pubertas yang pasti dialami setiap anak perempuan (Addy, 2009). Di Amerika Serikat tahun 2003 prevalensi yang diperoleh dari penelitian mengenai masalah remaja dalam  menghadapi pubertas, didapatkan  5-50%  yang mengalami kecemasan (Ghozally, 2007)
 Menarche bagi remaja putri adalah tanda remaja putri memasuki masa
pubertas yang ditandai dengan banyak muncul perubahan secara fisiologis
yang meliputi perubahan fisik dan mental.  Perubahan-perubahan tersebut
dapat memicu timbulnya kecemasan, namun tingkat kecemasan yang timbul
pada remaja putri yang mengalami menarche berbeda-beda setiap individu
tergantung dari informasi yang diperoleh dan kemampuan adaptasinya.  Dari
hasil penelitian yang dilakukan oleh Bagiada tahun 2007, di SLTP Negeri 4
Jember dengan sempel sebanyak 20 orang didapatkan hasil siswi yang
mengalami menarche sebanyak 7 orang (35%) tidak mengalami kecemasan, 9
orang (45%) mengalami kecemasan ringan, 4 orang (20%) mengalami kecemasan sedang  (Bagiada, 2003)
Hall seorang Ahli psikologi remaja mengemukakan bahwa pada masa pubertas ini anak dan remaja akan mengalami beragam  hal dalam kehidupan emosi dan perasaan disebut sebagai ketakutan dan ketegangan. Sehingga,  jika melihat usia pubertas ini menjadikan remaja menjadi mudah marah dan mudah tersinggung saat mengalami menarche. 
Idealnya seorang remaja putri belajar tentang menstruasi dari ibunya, namun tidak selamanya ibu dapat memberikan informasi tentang menstruasi karena terhalang oleh tradisi yang menganggap tabu membicarakan menstruasi sebelum menarche (Mayasari, 2005).  Pengetahuan pada hakekatnya yang dituntut atau ingin dicapai tujuannya adalah mencapai kebenaran.  Dengan mengetahui yang benar kita dapat mengetahui yang salah tanpa terlebih dahulu mengetahui yang benar (Arikunto, 2009).  Menurut Notoadmodjo (2003),  pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting terbentuknya tindakan seseorang.
  Sehubungan dengan hal-hal tersebut di atas, maka peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “ PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP PENGETAHUAN dan SIKAP DALAM MENGHADAPI  MENARCHE PADA SISWI SD ADVENT DI MINAHASA UTARA”.

Pernyataan Masalah
Berdasarkan pada uraian  latar belakang di atas, maka pernyataan masalah  yang dapat diambil adalah:
1.      Sampai sejauh manakah pengetahuan siswi SD Advent di Minahasa Utara  dalam  menghadapi menarche?
2.      Sampai sejauh manakah sikap siswi SD Advent di Minahasa Utara dalam menghadapi menarche?
3.      Apakah ada pengaruh antara pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan sisiwi SD SD Advent di Minahasa Utara dalam menghadapi menarche?
4.      Apakah ada pengaruh antara pendidikan kesehatan dengan sikap sisiwi SD SD Advent di Minahasa Utara dalam  menghadapi menarche?

Tujuan Penelitian
        Setelah meninjau latar belakang masalah serta pernyataan masalah, maka disusun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.Untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswi SD Advent di Minahasa Utara dalam menghadapi menarche.
2.   Untuk mengetahui bagaimana sikap siswi SD Advent di Minahasa Utara dalam menghadapi  menarche.
3.Untuk mengidentifikasi adanya pengaruh antara pendidikan    kesehatan dengan  pengetahuan siswi SD Advent di Minahasa Utara dalam menghadapi menarche.
4.Untuk mengidentifikasi adanya pengaruh pendidikan kesehatan dengan  sikap siswi SD Advent di Minahasa Utara dalam menghadapi menarche.





Kegunaan Penelitian
Kegunaan penelitian dibagi dalam empat bagian yaitu:

Bagi Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan informasi guna pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang keperawatan kesehatan anak, khususnya yang berhubungan dengan penanganan menarche dan kesehatan sistem reproduksi.

Bagi Siswi
Meningkatkan kesadaran bagi para siswi remaja khususnya sebagai pelajar akan pentingnya pendidikan kesehatan mengenai menarche serta memotivasi para siswi remaja  untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap
mereka dalam menghadapi menarche, sehingga dapat berperan aktif dalam memberikan pendidikan kesehatan.

Bagi Institusi Peneliti
Memberi dan menambah informasi mengenai hasil penelitian, menjadi bahan bacaan pada perpustakaan Universitas Klabat khususnya Fakultas Ilmu
Keperawatan, serta menjadi bahan referensi skripsi bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan angkatan berikutnya.  Sebagai bahan masukan bagi peneliti
selanjutnya, agar dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan dalam penelitian dengan variabel yang berbeda.

Bagi Peneliti
        Mengetahui dan mendapatkan pengalaman yang nyata dalam melakukan penelitian di bidang keperawatan anak remaja khususnya yang berhubungan sistem reproduksi, serta menambah pengetahuan tentang pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap siswi remaja dalam menghadapi menarche.

Cakupan dan Batasan-Batasan dalam Penelitian
Cakupan pada penelitian ini adalah siswi remaja yang berusia 9-12 tahun yang belum mendapat haid yang bersekolah di SD Advent di Minahasa Utara  pada periode Januari sampai April 2011 dan bersedia menjadi responden peneliti.
Batasan dalam  penelitian ini adalah para siswi yang berusia < 9 tahun dan > 12 tahun, yang bersekolah di SD Advent di Minahasa Utara, serta yang sudah mendapat haid.




Definisi Istilah-Istilah yang Digunakan dalam Penelitian

Pendidikan Kesehatan
Pendidikan adalah suatu proses atau kegiatan  yang diarahakan untuk mengubah kebiasaan  manusia, sehingga mencapai keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang  memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Pengetahuan
            Pengetahuan adalah berbagai informasi mengenai menarche yang diketahui oleh siswi remaja.

Sikap
            Sikap adalah merupakan reaksi atau respon siswi remaja terhadap terjadinya menarche yang didasari oleh pengetahuan dan kesadaran pribadi.

Menarche
            Menarche adalah haid yang pertama kali terjadi dialami siswi remaja, yang menunjukan seorang wanita mulai dewasa secara sehat dan tidak hamil.



Siswi SD Advent di Minahasa Utara
            Siswi SD Advent di Minahasa Utara adalah pelajar-pelajar yang terdiri wanita yang bersekolah di SD Advent Minahasa Utara.




















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini berisi teori dan konsep yang berhubungan dengan tema/masalah penelitian, sintesa berdasarkan teori-teori dan konsep-konsep yang telah diuraikan, kerangka konseptual, dan pernyataan hipotesis.

Pendidikan Kesehatan
Pendidikan bukanlah satu-satunya cara mengubah perilaku, tetapi pendidikan juga mempunyai peranan yang cukup penting dalam perubahan pengetahuan setiap individu (Sarwono, 2004).
Menurut Green & Keruter (2000), pendidikan kesehatan merupakan proses yang menghubungkan informasi kesehatan dengan praktek kesehatan dan cara penyampaian informasi dalam kegiatan pendidikan kesehatan dilakukan dengan melibatkan ilmu lain termasuk psikologi sosial yang diperlukan ketika melakukan promosi.
Menurut Notoatmodjo (2004), kegiatan belajar terdapat tiga persoalan pokok yang saling berkaitan yaitu:
1.      Persoalan masukan (input) yang menyangkut sasaran belajar itu    sendiri dengan latar belakangnya.
2.      Proses (process) yaitu mekanisme dan interaksi terjadinya perubahan kemampuan pada diri subyek belajar, dalam proses ini terjadi pengaruh timbal balik antara berbagai faktor antara lain subjek belajar, pengajar, metode dan teknik belajar, alat bantu belajar dan materi yang dipelajari.
3.      Keluaran (out put) adalah merupakan hasil belajar.  Sebagai indikator yang dapat diperoleh dalam mencapai keberhasilan suatu proses pendidikan kesehatan adalah adanya peningkatan pengetahuan dan sikap individu yang diaplikasikan dalam perilaku.

Tujuan Pendidikan Kesehatan
Menurut WHO (1954) yang diktuip oleh Notoatmodjo (2003), tujuan pendidikan kesehatan adalah meningkatkan status kesehatan dan  mencegah timbulnya penyakit, mempertahankan derajat kesehatan yang sudah ada, memaksimalkan fungsi dan peran pasien selama sakit, serta membantu pasien dan keluarga untuk mengatasi masalah kesehatan.  Secara umum tujuan dari pendidikan kesehatan adalah mengubah perilaku individu dan masyarakat dibidang kesehatan. Tujuan ini dapat diperinci lebih lanjut antara lain, menjadikan kesehatan sebagai sesuatu yang bernilai dimasyarakat, menolong
individu agar mampu secara mandiri atau kelompok mengadakan kegiatan untuk mencapai tujuan hidup sehat, mendorong pengembangan dan menggunakan secara tepat sarana pelayanan kesehatan yang ada (Herawani, 2001).
            Menurut  Machfoed (2005), pendidikan kesehatan merupakan proses perubahan, yang bertujuan untuk mengubah individu, kelompok dan masyarakat menuju hal-hal yang positif secara terencana melalui proses belajar.  Perubahan tersebut mencakup antara lain pengetahuan, sikap, dan keterampilan melalui proses pendidikan kesehatan. Pada hakikatnya dapat berupa emosi, pengetahuan, pikiran keinginan, tindakan nyata dari individu, kelompok, dan masyarakat.

Pengetahuan
Menurut Veronica, J.  (2009)  pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu, pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai, dengan demikian pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu.
North American Nursing Deiagnoses Association (2005) menjelaskan bahwa faktor-faktor yang terkait dengan kurang pengetahuan terdiri dari: kurang terpapar informasi, kurang daya ingat/hafalan, salah menafsirkan informasi, keterbatasan kognitif, kurang minat untuk belajar dan tidak familiar terhadap sumber informasi.
Menurut Notoatmodjo (2003), domain kognitif pengetahuan mempunyai 6 (enam) tingkatan, yaitu :
1.      Tahu, yaitu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk di dalam pengetahuan ini ialah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu “tahu” merupakan tingkat pengetahuan yang rendah.  Untuk mengukur bahwa seseorang tahu dapat diukur dari kemampuan orang tersebut menyebutkannya, menguraikan, dan mendefenisikan.
2.      Memahami, diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menguraikan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang telah paham terhadap suatu objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, terhadap objek yang dipelajari.
3.      Aplikasi, yaitu diartikan sebagai kemampuan untuk mempergunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dalam konteks atau situasi lain.
4.      Analisis, yaitu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain.
5.      Sintesis, yaitu menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formalisasi dari formulasi-formulasi yang telah ada.
6.      Evaluasi, yaitu kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian ini berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
Pengetahuan pada hakekatnya yang dituntut atau ingin dicapai tujuannya adalah mencapai kebenaran. Dengan mengetahui yang benar kita dapat mengetahui yang salah tanpa terlebih dahulu mengetahui yang benar (Addy, 2009).
Sumber informasi juga mempengaruhi pengetahuan, baik dari orang maupun media (Notoatmodjo, 2003). Media cetak sebagai alat untuk menyampaikan pesan-pesan  kesehatan sangat bervariasi, adapun  jenis-jenis sumber informasi tersebut yaitu:
1.       Didapat secara langsung seperti: Keluarga atau orang tua, tenga kesehatan (Dokter, Bidan, Perawat), dan Teman.
2.       Didapat secara tidak langsung:
1.  Media Cetak
- Booklet adalah suatu media untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan dalam bentuk buku, baik tulisan maupun gambar.
 - Leoplet adalah bentuk penyampaian pesan-pesan atau Flyer (selebaran) adalah seperti leoplet tapi tidak dalam bentuk lipatan.
 - Flipchart (lembar timbal balik) adalah media penyampaian pesan atau informasi kesehatan dalam bentuk lembar timbal balik, biasanya dalam bentuk buku dimana tiap lembar (halaman) berisi gambar peragaan dan dibaliknya berisi kalimat sebagai pesan atau informasi yang berkaitan dengan gambar tersebut.
 - Rubrik atau tulisan-tulisan pada surat kabar atau majalah yang membahas suatu masalah kesehatan. - Poster adalah bentuk media cetak berisi
2.  Media elektronik
Media elektronik sebagai sasaran untuk menyampaikan pesan-pesan atau informasi kesehatan yang jenisnya berbeda-beda, antara lain : televisi, radio, video, slide, film strip.
 3.  Media Papan
  Papan (billlobard) yang dipasangkan ditempat umum yang berisikan pesan-pesan atau informasi kesehatan.

Faktor yang Mempengaruhi Terbentuknya Pengetahuan
            Menurut Bruno (2004) faktor yang mempengaruhi terbentuknya pengetahuan terdiri dari:
1.      Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah serta berlangsung seumur hidup.  Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima informasi.
2.      Pengalaman belajar dalam bekerja yang dikembangkan memberikan pengetahuan dan keterampilan profesional serta pengalaman belajar selama bekerja akan dapat mengembangkan kemampuan mengambil keputusan yang merupakan manifestasi dari keterpaduan menalar secara ilmiah dan etik yang bertolak dari masalah nyata dalam bidang keperawatan.  Semakin tua semakin bijak, semakin banyak informasi yang dijumpai dan  semakin banyak hal yang dikerjakan sehingga menambah pengetahuannya.  Tidak dapat mengajarkan kepandaian baru kepada orang  yang sudah tua karena mengalami kemunduran fisik dan mental.
3.      Tingkat sosial ekonomi yang rendah menyebabkan keterbatasan biaya untuk menempuh pendidikan, sehingga pengetahuannya pun rendah.
4.      Orang yang memiliki sumber informasi yang lebih banyak akan memiliki pengetahuan yang lebih luas pula. Salah satu sumber informasi yang berperan penting bagi pengetahuan adalah media massa. Pengetahuan masyarakat khususnya tentang kesehatan bisa didapat dari beberapa sumber antara lain media cetak, tulis, elektronik, pendidikan sekolah, dan penyuluhan.
Dalam hal ini faktor keturunan dan bagaimana orang tua mendidik
sejak kecil mendasari pengetahuan yang dimiliki oleh remaja dalam berfikir selama jenjang hidupnya (Slamet, 2002).

Pengetahuan Mengenai Menarche pada Remaja Putri
             Menarche merupakan tanda seorang remaja putri sudah mengalami pubertas. Kesiapan remaja putri untuk menerima menarche tergantung beberapa hal, salah satunya dipengaruhi oleh faktor perilaku orang tua sebagian besar ibu tidak mengajari anak perempuan mereka tentang menstruasi, seperti usia mendapatkan menstruasi, lama menstruasi, dan pemeliharaan kesehatan selama menstruasi. pengetahuan yang harus dimiliki oleh remaja putri yaitu mendapatkan menstruasi pertama, lamanya menstruasi dan pemeliharaan kesehatan selama menstruasi.  Selama menstruasi perawatan  tubuh sangat penting, seperti memperhatikan kebersihan diri.


Kebutuhan pembalut perlu diganti 4 sampai 5 kali sehari untuk menghindari
pertumbuhan bakteri dan menghindari masuknya bakteri tersebut ke dalam vagina (Darvll & Powell, 2003).

Sikap
Menurut Bruno (1987) yang dikutip oleh Syah M (2004) sikap (attitude) adalah kecenderungan yang relatif menetap untuk bereaksi dengan cara baik atau buruk terhadap orang atau barang tertentu. Dengan demikian, pada prinsipnya sikap itu dapat kita anggap suatu kecendrungan siswa atau seseorang untuk bertindak dengan cara tertentu. Dalam hal ini, perwujudan perilaku belajar siswa dan perilaku seseorang akan ditandai denga munculnya kecenderungan baru yang telah berubah (lebih maju dan lugas) terhadap suatu objek, tata nilai, peristiwa dan sebagainya.
Adapun ciri-ciri sikap menurut WHO (World Health Organization) adalah :
1.      Sikap akan ikut atau diikuti oleh tindakan yang mengacu pada pengalaman orang lain.
2.      Sikap akan diikuti atau tidak oleh suatu tindakan berdasarkan pada banyak atau sedikitnya pada pengalaman seseorang.
3.      Sikap suatu masyarakat apapun selalu berlaku nilai-nilai yang menjadi pegangan setiap orang dalam menyelenggarakan hidup bermasyarakat.
Allport (dalam Hogg, 2004) mendefinisikan sikap sebagai sebuah
kecendrungan untuk bertingkah laku dengan cara tertentu dalam situasi sosial.

Sikap merujuk pada evaluasi individu terhadap berbagai aspek dunia sosial serta bagaimana evaluasi tersebut memunculkan rasa suka atau tidak  suka individu terhadap isu, ide, orang lain, kelompok sosial dan objek (Baron, 2004).
Sikap pada awalnya diartikan sebagai suatu syarat untuk  munculnya
suatu tindakan. Fenomena sikap adalah mekanisme mental yang mengevaluasi,  membentuk pandangan, mewarnai perasaan, dan akan ikut menetukan kecendrungan perilaku kita terhadap manusia atau sesuatu yang kita hadapi, bahkan terhadap diri kita sendiri, pandangan dan perasaan kita terpengaruh oleh ingatan akan masa lalu, oleh apa yang kita ketahui dan kesan kita terhadap apa yang sedang kita hadapi saat ini (Azwar, 2005).
 Menurut Notoatmodjo (2005), sikap mempunyai 3 komponen pokok yaitu:
1.   Kepercayaan (keyakinan), ide konsep terhadap suatu objek.
2.   Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek.
3.   Kecenderungan untuk bertindak.
 Ketiga komponen ini secara bersama-sama membentuk sikap yang utuh. Dalam penentuan sikap, pengetahuan berpikir, keyakinan dan emosi memegang peranan yang penting. Sikap ini terdiri dari berbagai tingkatan, yaitu:

1.      Menerima
Bila orang atau subjek mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan objek.
2.   Merespon
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dan sikap.
3.      Menghargai
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan sesuatu masalah.
4.   Bertanggung jawab
Tanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi.
Suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari emosi
yang berfungsi sebagai penyalur frustasi atau pengalihan bentuk
mekanisme pertahanan ego (Azwar, 2009).
Menurut Mappiare dalam Ardhiana (2009), sikap positif remaja dalam
menghadapi perubahan fisik ditunjukkan dengan menjadi bangga atau
toleran dengan tubuhnya sendiri, mempergunakan dan melindungi tubuh
sendiri secara efektif disertai dengan rasa kepuasan personal, percaya diri.
            Reaksi positif terhadap menarche dapat dirasakan remaja putri lainnya

sebagai indeks kedewasaan. Reaksi ini mengindikasikan bahwa remaja putri
tersebut telah mampu memiliki anak, mengalami sesuatu yang membuat

mereka menjadi wanita yang lebih dewasa.Remaja putri yang tidak memiliki persiapan sebelumnya terhadap menstruasi pertama cenderung memperlihatkan sikap negatif dibandingkan yang sudah mempersiapkan terlebih dahulu. Aspek negatif dari menstruasi pertama yang paling sering dilaporkan oleh remaja putri adalah kerepotan,  kekotoran,  ketidaknyamanan fisik yang menyebabkan keterbatasan tingkah laku dan menciptakan perubahan emosional (Santrock, 2003).
Terdapat banyak alasan mengapa remaja putri tidak dipersiapkan untuk menghadapi menstruasi pertama. Salah satunya, orang tua yang kurang memiliki pengetahuan atau terhambat oleh rasa malu terhadap anak dan sopan santun. Sebagai orang tua seharusnya memberitahu anak perempuannya bahwa perdarahan selama menstruasi adalah proses normal yang dialami oleh semua anak perempuan dan membantu anaknya agar tidak terlalu cemas dalam menghadapi menstruasi pertama tersebut.  Apabila remaja putri dipersiapkan sebelum menstruasi pertama, mereka akan mengembangkan tingkah laku positif untuk menghadapi perubahan fisik dan psikologis (Answar, 2009).




Remaja
        Remaja dalam bahasa Inggris disebut “adolescence” berasal dari bahasa latin yaitu “adolescere” yang berarti tumbuh ke arah kematangan (Ali, 2009).  Kematangan itu bukan hanya kematangan fisik namun juga kematangan sosial dan psikologis. Masa remaja adalah masa transisi dari kanak-kanak menuju dewasa, namun tidak semua menyadari bahwa pada masa remaja terjadi perubahan yang besar. Perubahan yang terjadi dengan cepat pada tinggi dan berat badan dikenal dengan istilah adolescence growth spurt. Sering kali kondisi ini sulit dilewati dengan nyaman karena adanya perubahan yang bersifat fisik. Perubahan fisik yang terjadi berhungan langsung dengan kepribadian, seksual dan peran sosial remaja dalam masyarakat  (Pratiwi, 2005).
        Remaja adalah anak usia 10-24 tahun yang merupakan usia antara masa kanak-kanak dan masa dewasa dan sebagai titik awal proses reproduksi, sehingga perlu dipersiapkan sejak dini (Romauli, 2009).  
        Masa remaja adalah masa transisi yang ditandai oleh adanya perubahan fisik, emosi dan psikis. Batasan usia remaja menurut WHO adalah 12 sampai 24 tahun. Menurut Depkes RI adalah antara 10 sampai 19 tahun dan belum kawin. Menurut BKKBN adalah 10 sampai 19 tahun (Widyastuti, 2009).
         Masa remaja, yakni antara usia 10-19 Tahun, adalah suatu periode masa pematangan organ reproduksi manusia, dan sering disebut Masa Pubertas (Widyastuti, 2009).
        Pada masa remaja tersebut terjadilah suatu perubahan organ-organ fisik secara cepat, dan perubahan tersebut tidak seimbang dengan perubahan kejiwaan. Terjadinya perubahan besar ini umumnya membingungkan remaja yang mengalaminya, oleh sebab itu perlu akan adanya pengertian, bimbingan dan dukungan dari lingkungan disekitarnya agar dalam sistem perubahan tersebut terjadi pertumbuhan yang sehat sedemikian rupa sehingga saat remaja tersebut menjadi manusia dewasa yang sehat secara jasmani, rohani dan sosial.
        Terjadinya kematangan seksual atau alat-alat reproduksi yang berkaitan dengan sistem reproduksi, merupakan suatu bagian penting dalam kehidupan remaja sehingga diperlukan perhatian khusus, karena bila timbul dorongan-dorongan seksual yang tidak sehat akan menimbulkan perilaku seksual yang tidak bertanggung jawab (Yani, 2009). 
        Menurut psikiater Dadang Hawari, masa remaja merupakan tahapan siklus kehidupan manusia  mulai dari bayi,  kanak-kanak,  remaja,  dewasa muda, dewasa tua, dan lanjut usia. Setiap tahapan dalam siklus kehidupan manusia itu akan mengalami perubahan-perubahan, baik secara biologik, psikologik, sosial dan spiritual. (Ezra, 2003).  Siklus, menstruasi normal terjadi sekali sebulan atau rata-rata 28 hari. Jumlah rata-rata darah yang keluar sekitar 30 ml. Pembalut biasanya digunakan diluar tubuh yaitu sekitar vagina. (Darvill & Powell,2003)

Menurut Sarwono (2006), urutan perubahan-perubahan fisik sebagai
berikut :
1.      Pertumbuhan tulang-tulang (badan menjadi tinggi, anggota-anggota badan menjadi panjang). Pinggul pun menjadi berkembang, membesar dan membulat. Hal ini sebagai akibat membesarnya tulang pinggul dan berkembangnya lemak di bawah kulit.
2.      Pertumbuhan payudara, seiring pinggul membesar, maka payudara juga membesar dan puting susu menonjol. Hal ini terjadi secara harmonis sesuai pula dengan berkembang dan makin besarnya kelenjar susu sehingga payudara menjadi lebih besar dan lebih bulat.
3.      Tumbuh bulu yang halus dan lurus berwarna gelap di kemaluan. Rambut kemaluan yang tumbuh ini terjadi setelah pinggul dan payudara mulai berkembang.
4.   Mencapai pertumbuhan ketinggian badan yang maksimal setiap tahunnya.
5.   Bulu kemaluan menjadi keriting.
6.    Haid adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus,    disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium.
7.   Tumbuh bulu-bulu ketiak, tertarik pada lawan jenis, cemas, mudah sedih, lebih perasa, menarik diri, pemalu dan pemarah . Sensitif atau peka misalnya mudah menangis, cemas, frustasi dan sebaliknya bisa tertawa tanpa alasan yang jelas. Utamanya sering terjadi pada remaja puteri, sebelum menstruasi.
Menurut Widyastuti, dkk, (2009) Berdasarkan sifat atau masa (rentang waktu), remaja ada tiga tahap, yaitu:
1.      Remaja awal (10-12 tahun): a. Merasa lebih dekat dengan dengan teman sebaya. b). Merasa ingin bebas. c). Merasa lebih banyak memperhatikan keadaan tubuhnya dan mulai berpikir yang khayal (abstrak).
2.      Masa remaja tengah (13-15 tahun): a). Tampak dan merasa ingin mencari identitas diri. b). Ada keinginan untuk berkencan atau ketertarikan pada lawan jenis. c). Timbul perasaan cinta yang mendalam. d). Kemampuan berpikir abstrak (berkhayal) makin berkembang. e) Berkhayal mengenai hal-hal yang berkaitan dengan seksual.
3.      Masa remaja akhir (16-19 tahun): a).Menampakkan pengungkapan kebebasan diri. b).Dalam mencari teman sebaya lebih selektif. c). Memiliki citra (gambaran, keadaan, peranan) terhadap dirinya. d). Dapat mewujudkan perasaan cinta. e) Memiliki kemampuan berpikir berpikir khayal atau abstrak.
            Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku selama masa remaja sejajar dengan tingkat perubahan fisik.  Selama awal masa remaja, ketika perubahan fisik terjadi dengan pesat, perubahan perilaku dan sikap juga berlangsung pesat.  Kalau perubahan fisik menurun maka perubahan sikap dan perilaku menurun juga.

Menarche
            Menarche merupakan suatu tanda yang penting bagi seorang wanita

yang menunjukkan adanya produksi hormon yang normal dibuat oleh

hipotalamus dan kemudian diteruskan oleh ovarium dan uterus. Selama dan

sekitar 2 Tahun hormon-hormon ini akan merangsang pertumbuhan tanda-

tanda seks sekunder seperti pertumbuhan payudara, perubahan-perubahan

kulit, perubahan siklus, pertumbuhan rambut ketiak dan rambut pubis serta

bentuk tubuh menjadi bentuk tubuh menjadi yang ideal. Ada sebagian kecil
anak perempuan mengalami menstruasi lebih awal yang disebut Solated Premature menarche dan ada juga yang mengalami menstruasi yang lewat
primary amenhorrhea. (Aulia, 2009).

            Menarche biasanya terjadi antara tiga sampai delapan hari, rata-rata

lima setengah hari. Dalam satu tahun setelah terjadinya menarche,

ketidakteraturan haid masih sering dijumpai. Ketidakteraturan terjadinya haid

adalah kejadian yang biasa dialami oleh para remaja putri, namun demikian

hal ini dapat menimbulkan keresahan pada diri remaja itu sendiri.

Sekitar dua tahun setelah menarche akan terjadi ovulasi. Ovulasi ini tidak

harus terjadi setiap bulan tetapi dapat terjadi setiap dua atau tiga bulan dan
secara berangsur siklusnya akan menjadi lebih teratur. Dengan terjadinya
ovulasi, spasmodic dismenorrhoea dapat timbul. (Ezra, 2003).

Menarche sebenarnya merupakan puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi pada seorang gadis sedang menginjak dewasa. (Jones, 2005). Menstruasi anak gadis dapat berhenti atau tertunda jika dia menjalani Diet yang ketat untuk mempertahankan berat badan idealnya atau jika dia mengidap penyakit Anorexia nervosa (Tidak ada nafsu makan karena tidak ingin gemuk). (Darvill, 2003).

Fisiologi Menarche
Munculnya haid pertama terjadi di tengah-tengah masa pubertas, yaitu masa peralihan dari anak-anak ke dewasa yang memegang peranan penting dalam proses tersebut adalah hubungan hipotalamus, hipopisis dan ovarium (Hipotalamic Pituitari-Ovarikratis). Hal ini merupakan hasil kerjasama antara korteks serebri, Hipotalamus, Hipopisis, Varium, Glanduna Supra Renalis dan Kelenjar-kelenjar Endokrin lainnya.  (Addy , 2009)  
Pada permulaan masa kanak-kanak sistem ini sudah berjalan kemudian tidak berfungsi lagi disebabkan sistem proses itu sangat peka, sehingga menghambat proses itu sendiri. Rendahnya Gonadotropin Releasing Hormone (GnRH) pada saat itu juga akibat unsur instrinsik penghambat susunan saraf yang mempunyai mekanisme penekanan denyutan (GnRH).  Saat sebelum masa pubertas, sekresi GnRH secara pulstabil dengan frekuensi rendah telah dimulai 4 tahun sebelum menarche, diikuti dengan kenaikan sekresi LH oleh Hipofisis pada malam hari. Pada masa pubertas, sekresi GnRH yang berfrekuensi rendah pelan-pelan berubah seperti wanita dewasa dengan sekresi yang berlangsung selama 24 jam, pola sekresi FSH dan L juga mengikuti perubahan-perubahan sekresi pulstabil GnRH ini  (Addy, 2009)
Menurut Teori Neurohormonal yang dianut sekarang, Hipotalamus mengawasi sekresi hormon Gonodotropin oleh Adeno Hipofisis melalui sekresi hormon yang disalurkan ke sel-sel Adeno Hipofisis lewat sirkulasi portal yang khusus yang dapat merangsang produksi dan pelepasan Gonadotropin dari Hipofisis. Folikel-folikel yang berkembang selama sebelum menghasilkan hormon estrogen dan kemudian mati, yang lainnya telah dirangsang FSH sehingga folikel ini berkembang mensekresi estrogen. Semakin lama jumlah folikel yang dirangsang semakin banyak sehingga kadar estrogen semakin tinggi. Hormon estrogen memegang peranan penting dalam perkembangan ciri-ciri kelamin skunder, pertumbuhan organ genetalia terjadinya perapatan pertumbuhan fisik dan perkembangan psikologi kewanitaan. Pada masa pubertas organ-organ genetalia lambat laun tumbuh mendekati bentuk dan sifat-sifat wanita dewasa. Estrogen menyebabkan umpan balik negatif terhadap FSH, dan bertambah akibat pertumbuhan folikel akan menurun dan sebagian mengalami atresia sehingga estrogen yang diproduksi folikel akan menurun pula. Dengan munculnya menstruasi pada seorangremaja dapat  menggambarkan kemampuan untuk bereproduksi. (Addy,  2009).
Tanda-tanda Terjadinya Menarche
Menurut Apriyani (2006) tanda ini dapat menyertai sebelum atau saat menarche antara lain :
1.  Perasaan malas bergerak, badan menjadi lemas, serta mudah merasa lelah.
2.  Nafsu makan meningkat dan suka makan makanan yang rasanya asam.
3.  Emosi menjadi labil, biasanya kita mudah sensitif dan perasaan negatif  lainnya.
4.  Mengalami kram perut
5.  Kepala Nyeri
6.  Pingsan
7.  Berat badan bertambah, karena tubuh menyimpan air dalam jumlah yang banyak.
8.  Pinggang terasa pegal
Menurut Dickerson (2003), dikelompokkan ke dalam tiga symptoms. Tiga gejala tersebut yaitu: behaviour symptoms, psychologic symptoms, dan physical symptoms.
1.      Behaviour symptoms, mencakup lelah, insomnia (susah tidur), makan berlebihan, dan perubahan gairah seksual.
2.      Psychologic symptoms, timbul gejala-gejala seperti mudah tersinggung, mudah marah,depresi, mudah sedih, cengeng, cemas, susah konsentrasi, bingung, sulitistirahat, dan merasa kesepian.
3.      Physical symptoms, secara fisik muncul juga gejala sakit kepala, payudara bengkak serta teraba keras, nyeri punggung, nyeri perut dan rasa penuh, bengkak pada kaki dan tangan, mual, nyeri otot dan persendian.
Menurut WHO (World Health Organization) yang dikutip oleh Sarwono (2008), remaja adalah suatu masa ketika individu berkembang pada pertama kali ia menjukkan tanda-tanda seksual sekundernya sampai ia mencapai kematangan seksual.  Individu mengalami perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menjadi dewasa dan terjadi peralihan dari ketergantungan sosial-ekonomi yang penuh kepada keadaan yang relatif mandiri. WHO (World Health Organization) menetapkan batas usia 10 sampai  20 tahun sebagai batasan usia remaja.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Menarche
Status gisi
Status gizi remaja memainkan peran yang dominan dalam menentukan status pematangan (Mounir GM, 2007). Menurut Soekirman (2000) status gizi merupakan keadaan kesehatan akibat interaksi antara makanan, tubuh manusia dan lingkungan hidup manusia.  Pertumbuhan remaja di negara yang sedang berkembang membutuhkan perhatian khusus pada nutrien vitamin A, seng atau protein selain kebutuhan energi yang adekuat.  Pada anak remaja putri mulai terjadi menarche (awal menstruasi) yang berarti mulai terjadi pembuangan Fe.Oleh sebab itu, kalau konsumsi makanan, khususnya Fe kurang maka akan terjadi kekurangan Fe (anemia).
Pertumbuhan normal tubuh memerlukan nutrisi yang memadai, kecukupan  energi, protein, lemak dan suplai semua nutrien esensial yang menjadi basis pertumbuhan. Pertumbuhan remaja di negara yang sedang berkembang membutuhkan perhatian khusus pada nutrien vitamin A, seng atau protein selain kebutuhan energi yang adekuat. Berbeda dengan di negara barat, di sana dilakukan fortifikasi pada produk makanannya sehingga jarang ditemukan defisiensi nutrien (Soetjiningsih, 2004).

Kegiatan fisik
Aktivitas fisik memegang peranan yang penting dalam menetukan kapan akan terjadi menarche. Aktivitas fisik yang berat dapat memperlambat proses terjadinya menarche, seperti menjadi atlet lempar lembing, lempar cakaram, lari, dan taekwondo (Lauder T,D, 2006).
Olahraga berlebihan dapat menyebabkan terjadinya disfungsi
hipotalamus yang menyebabkan gangguan pada sekresi GnRH. Hal tersebut menyebabkan terjadinya menarche yang tertunda dan gangguan siklus
menstruasi. Faktor utama penyebab supresi GnRH atlet wanita adalah
penggunaan energi berlebihan yang melebihi pemasukan energi pada atlet.
Disfungsi hipotalamus yang berhubungan dengan latihan fisik yang
berat dan gangguan pada pulsasi GnRH, dapat menyebabkan menarche yang
terlambat dan gangguan siklus menstruasi (Arzu V. Selma dkk, 2005).

Body Mass Index
Korelasi antara usia menarche dari anak perempuan dan ibu mereka tetap ada dalam semua keadaan kecuali dalam obesitas. Menarche usia ibu adalah prediktor yang baik usia menarche putri di non-obesitas anak perempuan dan BMI (Body Mass index) merupakan faktor penting (Egemen A, 2005).
Nutrisi mempengaruhi kematangan seksual pada gadis yang mendapat menstruasi pertama lebih dini, mereka cenderung lebih berat dan lebih tinggi pada saat menstruasi pertama dibandingkan dengan mereka yang belum menstruasi pada usia yang sama. Sebaliknya pada gadis yang menstruasinya terlambat, beratnya lebih ringan daripada yang sudah menstruasi pada usia yang sama, walaupun tinggi badan (TB) mereka sama. Pada umumnya, mereka menjadi matang lebih dini akan memiliki body mass index (indeks masa tubuh, IMT) yang lebih tinggi dan mereka yang matang terlambat memiliki IMT lebih kecil pada usia yang sama (Soetjiningsih, 2004).


Menstruasi
Menstruasi berasal dari kata latin’mensis’ yang berarti bulan disebut menstruasi karena secara rata-rata menstruasi datang sekali sebulan. ‘Menstruasi’ bulanan adalah siklus peristiwa didalam tubuh yang dikendalikan oleh hormon-hormon. (Darvill,2003).  Menstruasi adalah
pelepasan dinding rahim endometrium yang disertai dengan pendarahan yang terjadi secara berulang setiap bulan kecuali pada saat kehamilan. Menstruasi yang berulang setiap bulan tersebut akhirnya membentuk siklus manstruasi. 
Menstruasi juga bisa diartikan keluarnya cairan secara berkalah dari vagina selama usia produktif (Aulia, 2009).  Menstruasi pada usia 9-16 tahun adalah hal yang wajar, usia rata-rata mulai menstruasi mulai 11-13 tahun, tetapi pada semua gadis yang mengalaminya pada usia yang berbeda, menstrusasi terjadi sebagai akibat dihasilkannya hormon-hormon dari sebuah kelenjar kecil di dasar  otak yang disebut pituitary gland (Darvil, 2003).
Menstruasi atau haid mengacu kepada pengeluaran secara periodik darah dan sel-sel tubuh dari vagina yang berasal dari dinding rahim wanita. Menstruasi dimulai saat pubertas dan menandai kemampuan seorang wanita untuk mengandung anak, walaupun mungkin faktor-faktor kesehatan lain dapat membatasi kapasitas ini.
Menstruasi biasanya dimulai antara umur 10 dan 16 tahun, tergantung pada berbagai faktor, yaitu, status nutrisi, berat dan tinggi badan. Menstruasi berlangsung kira-kira sekali sebulan sampai wanita mencapai usia 45 - 50 tahun, sekali lagi tergantung pada kesehatan dan pengaruh-pengaruh lainnya.
Akhir dari kemampuan wanita untuk bermenstruasi disebut menopause dan menandai akhir dari masa-masa kehamilan seorang wanita. Panjang rata-rata daur menstruasi adalah 28 hari, namun berkisar antara 21 hingga 40 hari. Panjang daur dapat bervariasi pada satu wanita selama saat-saat yang berbeda dalam hidupnya, dan bahkan dari bulan ke bulan tergantung pada berbagai hal, termasuk kesehatan fisik, emosi, dan nutrisi wanita tersebut. (Yudhi, 2009).


Sikulus Menstruasi
Siklus Endometrium
Hari pertama menstruasi ditetapkan sebagai hari pertama siklus endometrium.  Lama rata-rata aliran menstruasi adalah lima hari (dengan rentang tiga sampai enam hari) dan jumlah darah rata-rata yang hilang ialah 50 ml (rentang 20 sampai sampai 80 ml), namun hal ini sangat bervariasi.  Siklus menstruasi merupakan rangkaian peristiwa yang secara kompleks saling mempengaruhi dan terjadi secara simultan di endometrium,  kelenjar hipotalamus dan hipofisis, serta ovarium.  Siklus menstruasi mempersiapkan uterus untuk kehamilan.  Bila tidak terjadi kehamilan, terjadi menstruasi.  Usia wanita, status fisik, dan emosi wanita, serta lingkungan mempengaruhi pengaturan siklus menstruasi (Bobak,2005).  Menurut Bobak (2010), siklus endometrium terdiri dari tiga fase,   yaitu: fase menstruasi, fase poliferasi, dan fase sekresi.
Fase menstruasi. Fase ini tidandai oleh perdarahan pervagina, berlangsung selama 3-5 hari. Secara fisiologis ini adalah ini akhir dari siklus menstrual karena endometrium luruh ke lapisan dasar bersama darah dari kapiler dan ovum yang tidak dibuahi.
Fase proliferasi. Fase ini merupakan periode pertumbuhan cepat yang berlangsung sejak sekitar hari kelima hingga ovulasi, misalnya, hari ke-10 siklus 24 hari, hari ke-14 siklus 28 hari, atau hari ke-18 siklus 32 hari.  Permukaan endometrium secara lengkap kembali normal dalam sekitar empat hari atau menjelang perdarahan berhenti.  Fase proliferasi begantung kepada stimulasi estrogen yang berasal dari folikel ovarium. 
Fase sekresi. Fase sekresi belangsung sejak hari ovulasi sampai sekitar tiga hari sebelum periode menstruasi berikutnya.  Setelah ovulasi diproduksi lebih banyak progesteron.  Pada akhir fase sekresi, endometrium sekretorius matang dengan sempurna dan mencapai ketebalannya. Endometrium menjadi kaya dengan darah sekresi kelenjar, tempat yang sesuai untuk melindungi dan memberi nutrisi ovum yang dibuah. (Bobak, 2005).  Menjelang akhir siklus menstruasi yang normal, kadar estrogen dan progesterone darah menurun. Kadar hormone ovarium yang rendah dalam darah ini menstimulasi hipotalamus untuk menyekresi gonado tropin-releasing hormone (Gn-RH) (Gn-RH) sebaliknya menstimulasi, sekresi hipofisis anterior follicle stimutate hormon(FSH).  FSH menstimulasi perkembangan folikel de Graf ovarium dan produksi estrogennya. Kadar estrogen mulai menurun dan Gn- RH hipotalamus memicu hipofisis anterior mengeluarkan lutenizing hormone (LH).

Siklus Hipotalamus-Hipofisis
Menjelang akhir siklus menstruasi yang normal, kadar estrogen dan progesterone darah menurun.  Kadar hormone ovarium yang rendah dalam darah ini menstimulasi hipotalamus untuk menyekresi gonado tropin-releasing hormone (Gn-RH) Gn-RH sebaliknya, menstimulasi sekresi hipofisis anterior FSH.  FSH menstimulasi perkembangan folikel de Graf ovarium dan produksi estrogennya.  Kadar estrogen mulai menurun dan Gn- RH hipotalamus memicu hipofisis anterior mengeluarkan lutenizing hormone
(LH).  Lonjakan LH yang menyolok dan kadar estrogen yang berada di bawah puncak (hari ke 12) ekspulsi ovum dari folikel de Graaf dalam 24 sampai 36 jam.  LH mencapai puncak pada sekitar hari ke 13 atau ke 14 pada siklus 28 hari.  Apabila tidak terjadi fertilisasi dan implantasi ovum pada waktu ini  korpus luteum menyusut.  Oleh karena itu, kadar progesterondan estrogen
menurun sehingga terjadi menstruasi, dan hipotalamus distimulasi kembali untuk menyekresi gonado tropin-releasing hormone (Gn-RH). (Bobak, 2005).


Siklus Ovarium
Sejak saat lahir terdapat banyak folikel primordial dibawah kapsul ovarium. Setiap folikel mengandung ovum imatur. Pada permulaan setiap siklus, beberapa folikel membesar dibawah pengaruh FSH dan estrogen. Sekitar hari ke 14 siklus 28 hari, folikel yang membesar menjadi pecah, dan ovum terlepas kedalam rongga abdomen. Proses ini disebut Ovulasi. Fase
luteal dimulai segera setelah ovulasi dan berakhir pada awal menstruasi.  Fase pascaovulasi pada siklus ovarium ini biasanya berlangsung selama 14 hari (rentang 13 sampai 15 hari).  Korpus luteum mencapai puncak aktivitas fungsional 8 hari setelah ovulasi, menyekresi baik hormon estrogen streoid maupun progesteron steroid.  Bersamaan dengan waktu fungsi luteal puncak ini, telur yang dibuahi bernidasi di endometrium. Apabila tidak terjadi implantasi, korpus luteum berkurang dan kadar sreoid menurun. Dua minggu
setelah ovulasi, jika tidak terjadi fertilisasi dan implantasi, lapisan fungsional endometrium uterus tanggal selama menstruasi. (Bobak,2005).

Gangguan Saat Haid
Banyak wanita yang mengalami nyeri sebelum menstruasi atau haid, ada yang pusing, mual, pegal-pegal, sakit perut, bahkan ada yang sampai pingsan. Sakit perut yang dirasakan ini disebabkan kontraksi rahim untuk mengeluarkan endometrium yang juga dipengaruhi oleh hormone prostaglandin.  Kita juga merasa tidak enak karena hormon estrogen dan progesteron mengalami kekacauan keseimbangan menjelang menstruasi. Kalau sakitnya masih bisa ditahan, bisa disebut normal. Jika sampai pingsan atau sakit yang luar biasa, hingga sampai mengganggu aktivitas kita, itu sudah harus dicurigai. (Wahyurin dan Sari, 2007).
Menurut Apriyani (2006) tanda-tanda terjadinya gangguan haid (datang bulan) pada seorang wanita  adalah sebagai berikut :
1.      Bagi wanita-wanita tertentu, tidak teraturnya datang bulan merupakan keadaan yang wajar, namun bagi wanita lainnya, keadaan ini dapat merupakan tanda bagi penyakit menahun.
2.       Apabila datang bulan (haid) tidak terjadi pada saat yang seharusnya, hal ini mungkin menunjukkan tanda kehamilan. Akan tetapi, masa dating bulan yang tidak teratur atau tidak mendapatkan bulanan sering merupakan keadaan yang wajar bagi banyak gadis yang baru saja mendapatkan haidnya. Kecemasan dan gangguan emosional dapat menyebabkan seorang wanita tidak mendapatkan haidnya.
3.      Apabila masa haid berlangsung lebih dari 6 hari, dan darah yang keluar banyak dan tidak seperti biasanya, atau haid lebih dari satu kali dalam sebulan, maka harus segera menghubungi dokter



Kerangka Konseptual
            Figure 2.1 diadaptasi dari teori perubahan perilaku oleh Lawrence Green (1980) dan Hosland, et al (1953) dalam Notoatmodjo (2003).  Teori ini menjelaskan bahwa stimulus yang di terima oleh individu menghasilkan perhatian, pengertian, dan penerimaan.  Selanjutnya menimbulkan reaksi yang dapat berupa reaksi tertutup maupun reaksi terbuka.  Reaksi terbuka dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu predisposing faktor, Enambling faktor, dan Reinforcing faktor.  Reaksi terbuka inilah yang kemudian menghasilkan perubahan, yaitu perubahan positif sehingga pendidikan kesehatan dilakukan ataupun perubahan negatif yang mengakibatkan pendidikan kesehatan tidak dilakukan.



Stimulus

·         Perhatian
·         Pengertian
·         penerimaan
Reaksi tertutup
(perubahan sikap)
Reaksi terbuka
(perubahan prilaku)
Perubahan negatif
Perubahan positif
Tidak menerima pendidikan kesehatan
Menerima pendidikan kesehatan
·         Reinforcing factor (sikap
dan perilaku penyedia pendidikan kesehatan)
·         Enabling factor
(tempat Pelayanan pendidikan kesehatan)
·         (Predisposing factor
(pendidikan, pekerjaan, pendapatan, jumlah anak, pefngetahuan, sikap)
 




















Figure 2.1 Teori perubahan prilaku
Adapun teori keperawatan yang mendukung penelitian ini adalah teori yang dikemukakan oleh Watson dalam Persatuan Perawat Nasional Indonesia (2010) yang menyatakan bahwa tujuan keperawatan adalah untuk meningkatkan kesehatan, mengembangkan klien pada kondisi sehatnya, dan mencegah kesakitan.  Dalam hubungannya dengan penelitian ini, perawat berperan memberikan caring secara interpersonal melalui intervensi dalam bentuk penyuluhan tentang pentingnya pendidikan kesehatan kepada masing-masing remaja sehingga lewat penyuluhan yang diberikan diharapkan dapat memberikan masukan yang positif terhadap pengetahuan dan sikap remaja dalam upayanya meningkakan dan mengembangkan kondisi sehat bagi anaknya serta mencegah kesakitan lewat program pendidikan kesehatan.
Teori keperawatan lainnya yang menduking diungkapkan oleh Parse (1981) dalam PPNI (2010).  Ia menyatakan bahwa keperawatan memfokuskan pada manusia sebagai suatu unit yang hidup dan kualitas partisipasi manusia terhadap pengalaman sehat.  Teori ini menuntut manusia secara terus menerus berinteraksi dengan lingkungan dan berpartisipasi dalam upaya mempertahankan kesehatan, dalam hubungannya dengan penelitian ini, partisipasi remaja sangat dituntut.
 Salah satu upaya mempertahankan kesehatan adalah melalui program pendidikan kesehatan. Teori lain yang mendukung adalah Health Belief Model yang dikemukakan oleh Rosen stock (1974) dalam Hidayat (2008). Ia menyatakan bahwa perilaku kesehatan merupakan fungsi dari pengetahuan dan sikap.  Secara khusus bahwa persepsi seseorang tentang  kerentanan dan kemujaraban pengobatan dapat mempengaruhi keputusan seseorang dalam perilaku kesehatannya.  Health Belief Model Menurut Becker (1979) dalam Hidayat (2008) ditentukan oleh percaya bahwa mereka rentan terhadap masalah kesehatan, menganggap serius masalah yakin terhadap efektivitas pengobatan, tidak mahal, serta menerima anjuran untuk mengambil tindakan kesehatan.










Paradigma Konseptual

            Independen Variabel (X)                                                                              Dependen Variabel (Y)
Pendidikan kesehatan
Pengetahuan
Sikap           
 



                                                                                                                                               
Figure 2.2  paradigma konseptual

Pernyataan Hipotesa
H01:  tidak ada pengaruh yang signifikan dari pendidikan kesehatan terhadap sikap siswi SD Advent di Minahasa Utara dalam menghadapi menarche.
H02: tidak ada pengaruh yang signifikan dari pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan sisiwi SD Advent di Minahasa Utara.






BAB III
METODELOGI PENELITIAN


Pada bab ini akan dibahas desain penelitian dan penggunaan statistik dalam proses analisa data, subyek dan partisipan penelitian, sampling dan subyek alokasi, seting/pengaturan, pengumpulan data, pertimbangan etika dalam penelitian, prosedur pengumpulan data, dan alur perencanaan pengumpulan data.

Desain Penelitian dan Penggunaan Statistik Dalam Proses Analisa Data
Model penelitian yang akan digunakan adalah penelitian eksperimen atau percobaan yang bertujuan untuk mengetahui suatu pengaruh yang timbul dalam hal ini pengetahuan dapat diibaratkan sebagai suatu alat yang dipakai manusia dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapinya (Notoatmodjo, 2003). Serta Pengukuran sikap dilakukan dengan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat dinyatakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek. Secara langsung dapat dilakukan dengan pernyataan-pernyataan hipotesis kemudian dinyatakan pendapat responden (Notoatmodjo, 2003,).
Variabel dalam penelitian ini dibagi dua yaitu variabel dependen yaitu yang dipengaruhi dalam penelitian ini adalah pengetahuan dan sikap, dan variabel independen yaitu yang mempengaruhi adalah pendikan kesehatan.

Subyek dan Partisipan dalam Penelitian
Patisipan yang akan diikut sertakan dalam  penelitian ini adalah semua siswi umur 9-12 tahun yang berada di SD Advent di Minahasa Utara pada periode Januari-April 2012.

Sampling dan Subyek Alokasi
Teknik sampling  yang akan digunakan  pada penelitian ini adalah purposive sampling (sampel bertujuan) yaitu penetapan sampel dengan memilih sampel diantara populasi yang sesuai dan dikehendaki peneliti, baik tujuan atau  masalah penelitian.  Dalam penelitian ini, sampel diperoleh dari populasi siswi yang berada di tiga SD Advent di Minahsa Utara yang disesuaikan dengan tema, tujuan, dan kriteria subyek penelitian yang telah ditentukan sebelumnya. Populasi siswi yang berusia 9 sampai 12 tahun yang berada di SD  Advent Laboratorium Unklab adalah 78 orang, di SD Advent Kaima adalah 23 orang, dan di SD Advent Kawiley adalah 25 orang.
Sedangkan sampel yang akan diikutsertakan sebanyak 90 orang.


Lokasi Penelitian
            Yang akan menjadi tempat penelitian yaitu SD Advent di Minahasa Utara diantaranya : SD Advent Laboratorium Unklab yang berada di Airmadidi Bawah, SD Advent Kaima yang berada di desa Kaima, dan SD Advent Kawiley yang berada di desa Kawiley.

Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini teknik yang akan digunakan adalah wawancara langsung terstruktur dan kuesioner. Wawancara merupakan salah satu bentuk usaha untuk mengetahui informasi dengan mengajukan pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan juga dan bertujuan untuk memperoleh standar suatu kegiatan. Sedangkan tujuan dari validasi kuesioner adalah menemukan apakah pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner jelas, tidak ragu-ragu, jumlah pertanyaannya cukup untuk mengumpulkan data dan pertanyaannya objektif, tidak menyimpang dan relevan dengan penelitian, serta untuk mengetahui perubahan serta pengaruh yang terjadi pada responden. (Sumarsono, 2004, hal 70). Untuk mengukur variabel pengetahuan dan sikap siswi dalam menghadapi menarche peneliti menggunakan kuesioner yang disusun oleh peneliti sendiri berdasarkan teori-teori yang berhubungan.
            Kuesioner ini terdiri dari dua bagian:
Bagian 1, berisi pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan responden terhadap menarche.  Responden diberikan pertanyaan yang akan diukur dengan menggunakan skala Guttman.  Skala Guttman adalah skala yang digunakan untuk jawaban yang bersifat jelas (tegas).  Misalnya: Yakin – Tidak Yakin; Ya – Tidak; Benar – Salah (Riduwan, 2003).
a.       Menggunakan skala Guttman dengan pertanyaan positif
Ya       :1
Tidak  :2
Terdapat 18 pertanyaan positif untukmengukur pengetahuan responden terhadap menarche.
Pada penelitian ini, pengukuran pengetahuan digolongkan menjadi:
Sangat kurang : ≤25
Kurang : 26-49
Baik : 50-74
Sangat Baik : ≥75.
Persentase hasil didapat dari total penggolongan responden yang menjawab pertanyaan kuesioner tentang pengetahuan dengan benar.
Bagian 2, berisi pertanyaan-pertanyaan tentang sikap responden terhadap menarche.  Responden diberikan pertanyaan yang akan diukur menggunakan skala Likert, dan peneliti menentukan kriteria untuk mengidentifikasikan sikap responden sebagai berikut:
Sangat setuju                :  5
Setuju                           :  4
Ragu-ragu                     :  3
Tidak setuju                  :  2
Sangat tidak setuju       :  1

Tabel 3.1 Skla Likert Interpretasi
Skala
Respon
  Sikap
       Rata-rata Interval
5
Sangat Setuju
4.6-5
4
Setuju
3.6-4.5
3
Ragu-Ragu
2.6-3.5
2
Tidak Setuju
1.6-2.5
1
Sangat Tidak Setuju
1-1.5

              Pada bagian ini terdapat 13 pertanyaan untuk mengukur sikap responden terhadap menarche. Dari nilai rata-rata yang didapat responde, peneliti menetukan berapa jumlah siswi sesuai penggolongan sikapnya.
        Untuk menjawab pernyataan masalah penelitian nomor 1 dan 2 sampai sejauh manakah pengetahuan dan sikap siswi remaja dalam menghadapi menarche digunakan rumus mean hipotetik dan standar deviasi hipotetik.
Adapun rumus mean hipotetik :


µ=1/2(i_max+i_min)∑k


Keterangan :
µ           : Mean (rata-rata) hipotetik
i_max  : Skor maksimal item
i_min   : Skor minimal item
∑k       : jumlah item



Rumus standar deviasi hipotetik


σ=1/6(X_max-X_min)


Keterangan :
σ                : Standar deviasi hipotetik
X_max      : Skor maksimal Subjek
X_min       : Skor minimal Subjek

Untuk menjawab pernyataan masalah penelitian nomor 3 dan 4 apakah ada pengaruh yang signifikan antara pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap dalam menghadapi menarche dari hasil pre test  dan post test setelah digunakan uji statistik paired t-test.
Rumus:          
dimana,                                                                                           


Keterangan :
t                                    =  paired t-test
                                   =  rata-rata selisih antara pengamatan yang       berpasangan
Sd                                 =  standar deviasi dari selisih antara pengamatan yang berpasangan
n                                   = jumlah pengamatan
nilai siginifikansi α                   = 0,05

Pertimbangan Etika dalam Penelitian
Prosedur pertimbangan etika dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Memperoleh surat pengantar dari dekan Fakultas Keperawatan Universitas Klabat.
2.      Memperoleh surat izin dari Kepala Sekolah SD Advent Laboratorium Unklab, Kepala Sekolah SD Advent Kaima, dan Kepala Sekolah SD Advent Kawiley.
3.      Mendapatkan informed consent dari responden penelitian.
Hak-hak subyek penelitian harus dilindungi dan mengacu pada :
1.  Kesediaan menjadi responden
2.  Kebebasan pribadi, tidak ada paksaan
3.  Tanpa indentitas serta dijaga kerahasiaannya
4.  Perlakuan yang wajar
5.  Terlindung dari ketidaknyamanan dan hal yang membahayakan.

Prosedur Pengumpulan Data
            Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
1.      Mengadakan studi pendahuluan, studi kepustakaan, memilih topik penelitian, penentuan lahan, penyusunan proposal penelitian, perampungan materi,  persiapan alat dan bahan yang dibutuhkan. Intinya adalah untuk mendapatkan persetujuan proposal penelitian.
2.      Setelah mendapatkan persetujuan proposal peneliti membawa surat izin penelitian dari Dekan Fakultas Keperawatan Universitas Klabat dan diberikan kepada pihak sekolah, untuk mendapatkan ijin penelitian.
3.      Peneliti melakukan pengecekan di sekolah.
4.      Setelah memperoleh responden yang sesuai, peneliti mulai melakukan pengumpulan data. Dalam melakukan pengumpulan data aktual, peneliti mengikuti protokol penelitian sebagai berikut: Peneliti memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan dan keuntungan penelitian serta memperoleh informed consent dari responden penelitian, setelah itu peneliti membagikan kuesioner kepada para responden dan dilanjutkan dengan melakukan wawancara langsung untuk pengambilan data. 
5.      Jika semua data telah terisi, dilanjutkan dengan pengumpulan kuesioner dari para responden. 
6.      Untuk mengakhiri pengumpulan data, peneliti mengucapkan terima kasih kepada para responden yang telah bersedia berpartisipasi menjadi subyek dalam pengumpulan data.
7.      Setelah data terkumpul, peneliti mulai mengadakan pengolahan data dan penyusunan laporan penelitian serta penyajian hasil penelitian.






























DAFTAR PUSTAKA

Buku
Addy, (2009).  Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Tentang Menarche. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
American Nursing Diagnoses Association. (2005). Nursing diagnoses definitions and classification 2005-2006.  Philadelpia: Nanda International.North
Arikunto, S.  (2009).  Manajemen Penelitian.  Jakarta: Rineka Cipta
Aulia, (2009).  Kupas Tuntas Menstruasi Dari A Sampai Z, Yogyakarta: Millestone.
Azwar, S.  (2007).  Metode Penelitian.  Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Bobak, I.  M.  Dkk.  (2005).  Buku Ajar Keperawatan Maternitas (terjemahan, edisi. 4), Jakarta: EGC.
Darvill, W.  Dkk.  (2003).  The Puberty Book panduan untuk remaja. Jakarta : PT. Gramadia Pustaka Utama.

Egemen. (2005). Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta: Sagung Seto.

Hidayat, A. (2007). Riset keperawatan dan teknik penulisan ilmiah Jakarta: salemba media.

Paat et. Al. (2005). Gizi dalam Kesehatan Reproduksi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran. EGC.

Jones, D. L. (2005). Setiap Wanita. Jakarta: PT. Delapratasa Publisihing.
Mubarak. W. I. Chayatin, N. Rozhikin, K & supriadi. (2007). Promosi Kesehatan. Yogyakarta : Graha Ilmu

Mounir GM, (2007). penilaiyan status gizi. Jakarta: Penerbit buku kedokteran EGC.

Notoatmodjo, S.  (2002).  Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Jakarta : Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S.  (2002).   Kesehatan Masyarakat : Ilmu dan Seni, Jakarta : Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S.  (2005).   Promosi Kesehatan : Teori dan Aplikasi. Jakarta : Rineka Cipta.

Notoadmodjo, S.  (2005).   Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta : Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S.  (2002).  Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: Rineka Cipta.

Notoatmodjo, S.  (2003).  Ilmu Kesehatan Masyarakat, Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S.  (2004).  Metodologi Penelitian Kesehatan, Jakarta: Reneka Cipta.

Romauli, dkk. (2009). Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta: Nuha Medika

Santrock, J.  (2003).  Adolescence Perkembangan Remaja, Jakarta: Erlangga.

Salemba PPNI. (2000). Standar Praktik Keperawatan. Jakartan : PPNI

Sarwono.  S. W, (2003), Psikologi Remaja, Edisi Revisi, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Sarwono, S.  (2003).  Sosiologi Kesehatan.  Refika Aditama. Jakarta.
Sarwono,  S.  W.  (2008).  Psikologi Remaja. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
Slamet.  (2002).  Sosiologi Kesehatan.  Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press.
Soekirman. (2000). Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII. Jakarta, 17-1.
Soetijiningsih. (2004). Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta: Sagung Seto.
Sumarsono, S.  (2004).  Metode Riset Sumber Daya Manusia. Yogyakarta: Graha.
Wahyurin. (2007). Gangguan saat haid, ilmu kebidanan, edisi ke -3. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.
Wijaya. (2008).  Prinsip Dasar Ilmu Gizi.  Cet ke-5. Jakarta: Gramedia
Wiknjosastro Hanifa.  Dkk.  (2002).  Ilmu Kandungan.  Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
Widyastuti, Y., et.al, (2009), Kesehatan Reproduksi.  Jakarta : Fitramaya.

Yani dkk. (2009).  Kesehatan Reproduksi.Yogyakarta:Fitramaya.


Yudhi.  (2008) memahami Kesehatan reproduksi wanita ed 2: Fitramaya.

Journal
           
Apriani. (2006). Hubungan Antara Pengetahuan Tentang Risiko di Luar Nikah Pada Siswa SMA N 2 Magetan. Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.

Arzu, V. et, al.(2005).  A Review of  The Female Athlete Triad, Adolescent Medicine, 14:1
Ezra, E. S. Dkk, (2003).  Konstitusional Psikologis Remaja Putri Yang telah Mengalami Menarche Di SLTP Negeri 1 Ogan Ilir. Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Fergusson. D.  M. (2011). Age of menarche and psychosocial outcomes in a New Zealand birth cohort .  J Am Acad Child Adolesc Psychiatry,  132-140.
Lauder T.D.  (2006). The Female Athlete Triad : Prevalence in Militarry Women, Medicine and Science in Sports and Exercise, 30:5
Lu ZJ. (2001). The relationship between menstrual attitudes and menstrual symptoms among Taiwanese women.   J Adv Nurs, 33(5):621-8.
Nurngaini, S.  (2003).  Kesiapan Remaja Putri Sekolah Dasar dalam Menghadapi Menarche Dini Studi Kualitatif Pada Siswa SD Islam AL Azhar 14 Semarang.  Undergraduate thesis, Diponegoro University.
Todd. T.et,al, (2010).  The impact of socioeconomic status across early life on age at menarche among a racially diverse population of girls.  Ann Epidemiol.  836-42.
Veronica,  J.  (2009).  Pengaruh Metode Simulasi Terhadap pengetahuan dan Sikap Guru tentang Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja di SMU dan SMK Swasta Pencawan Medan. Tesis Pada Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara Medan.
Green, L.  W.  & Kreuter, W,M.  (2000).  Health Promotion Planning And Educational, California; Mayfield Publishing Company.
Mulyati, (2007). Hubungan pengetahuan Mengenai Menstruasi Terhadap Kesiapan Remaja Putri Usia Pubertas Di SMP Negri 3 Medan Dalam Menghadapi Menarche.


Media Elektronik
Internet
Dickerson L.M., Mazyck P.J., Hunter M.H. 2003. Premenstrual Syndrome.http://www.aafp.org/afp/2003/0415/p1743.html. (27 oktober  2011)

Jameela, A.  R.  (2008).  Remaja Indonesia Masih Sangat Membutuhkan Informasi Kesehatan Reproduksi http://www.mitrainti.org/?q=node/407 ; diunduh 14 oktober 2011.
Mayasari, D. (2005). Studi mengenai pengetahuan dan penerimaan putri terhadap menstruasi (studi kasus pada 4 siswi SLTP di Jakarta) www.hqweb01.bkkbn.go.id/hqweb/ceria/sslappage3.html, tanggal 10 oktober 2011.



Kuesioner Penelitian dengan Judul:
“PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP DALAM MENGHADAPI MENARCHE PADA
                SISWI SD ADVENT DI MINAHASA
                                                                                UTARA .

No                               :
Tanggal           :
Kami Mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat Tingkat IV, saat ini sedang melakukan penelitian dengan judul pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan dan sikap dalam menghadapi menarche SD advent di minahasa utara”. Oleh karena itu kami meminta pertisipasi anda untuk turut serta dalam melengkapi pengumpulan data yang sedang dilakukan, dan kami dapat menjamin kerahasiaan data-data yang telah kami peroleh. Semoga Tuhan memberkati kita semua.

Hormat kami,

Peneliti

1.   Identitas Responden
a.       Jenis Kelamin  :
b.      Kelas               :

2.   Pertanyaan Tentang Pengetahuan
Petunjuk:

Pilihlah jawaban yang paling tepat dari pertanyaan di bawah ini. Tuliskan nomor jawaban yang Anda pilih pada kolom
jawaban di sebelah kanan.








DEFINITION

1
Menarche merupakan suatu tanda yang penting bagi seorang wanita saat masa pubertas.
1.      Ya
2.      Tidak


2
Menarche merupakan puncak dari serangkaian perubahan yang terjadi pada seorang gadis sedang menginjak dewasa.
1.      Ya
2.      Tidak



3
Menarche adalah haid pertama yang akan dialami oleh setiap remaja.
1.      Ya
2.      Tidak




TANDA-TANDA TERJADINYA MENARCHE.

1
Perasaan malas bergerak, badan menjadi lemas, serta mudah merasa lelah.
1.      Ya
2.      Tidak



2
Nafsu makan meningkat dan suka makan makanan yang rasanya asam.
1.      Ya
2.      Tidak



3
Emosi menjadi labil, biasanya kita mudah sensitif dan perasaan negatif  lainnya.
1.      Ya
2.      Tidak


4
Mengalami kram perut
1.      Ya
2.      Tidak


5
Kepala Nyeri
1.      Ya
2.      Tidak



6
Pingsan
1.      Ya
2.      Tidak



7
Berat badan bertambah, karena tubuh menyimpan air dalam jumlah yang banyak.
1.      Ya
2.      Tidak



8
Pinggang terasa pegal
1.      Ya
2.      Tidak



Gejalah Terjadinya Menarche
1.
Behaviour symptoms, mencakup lelah, insomnia (susah tidur), makan berlebihan, dan perubahan gairah seksual.

1.      Ya
2.      Tidak


2.
Psychologic symptoms, timbul gejala-gejala seperti mudah tersinggung, mudah marah,depresi, mudah sedih, cengeng, cemas, susah konsentrasi, bingung, sulitistirahat, dan merasa kesepian.

1.      Ya
2.      Tidak


3.
Physical symptoms, secara fisik muncul juga gejala sakit kepala, payudara bengkak serta teraba keras, nyeri punggung, nyeri perut dan rasa penuh, bengkak pada kaki dan tangan, mual, nyeri otot dan persendian.

1.      Ya
2.      Tidak








Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Menarche
1.
Status gisi
1.      Ya
2.      Tidak


2.
Kegiatan fisik
1.      Ya
2.      Tidak



3.
Index massa tubuh
1.      Ya
2.      Tidak




3.      Pertanyaan mengenai sikap
Jawablah dengan hanya satu pilihan apakah anda setuju atau tidak setuju. Kami tidak menilai jawaban anda benar atau salah.

1.
Menarche merupakan peristiwa yang normal yang harus dihadapi oleh remaja putri.
1.      Sangat tidak setuju
2.      Tidak Setuju
3.      Ragu – ragu
4.      Setuju
5.      Sangat setuju

2.
Mempelajari dan mengerti tentang menarche sebaiknya sebelum mengalami menarche.
1.      Sangat tidak setuju
2.      Tidak Setuju
3.      Ragu – ragu
4.      Setuju
5.      Sangat setuju

3.
Menarche bukan merupakan peristiwa yang memalukan bagi seorang remaja putri yang menagalaminya.
1.      Sangat tidak setuju
2.      Tidak Setuju
3.      Ragu – ragu
4.      Setuju
5.      Sangat setuju

4.
Mempersiapkan pembalut sebelum mengalami menarche.
1.      Sangat tidak setuju
2.      Tidak Setuju
3.      Ragu – ragu
4.      Setuju
5.      Sangat setuju

5.
Mengurangi aktivitas fisik baik sebelum atau sesudah menarche atau pun sementara mengalami menarche.
1.      Sangat tidak setuju
2.      Tidak Setuju
3.      Ragu – ragu
4.      Setuju
5.      Sangat setuju

6.
Bertanya pada orang tua atau orang yang sudah berpengalaman tentang menarche.
1.      Sangat tidak setuju
2.      Tidak Setuju
3.      Ragu – ragu
4.      Setuju
5.      Sangat setuju








7.
Mecari tau penanganan menarche yang terkini lewat media cetak, audio dan visual.
1.      Sangat tidak setuju
2.      Tidak Setuju
3.      Ragu – ragu
4.      Setuju
5.      Sangat setuju

8.
Mengerti tanda dan gejala dari menarche.
1.      Sangat tidak setuju
2.      Tidak Setuju
3.      Ragu – ragu
4.      Setuju
5.      Sangat setuju



9.


Mempersiapkan diri sebelum terjadinya menarche.



1.      Sangat tidak setuju
2.      Tidak Setuju
3.      Ragu – ragu
4.      Setuju
5.      Sangat setuju

10.
Menjaga kebersihan diri saat mengalami menarche.


1.      Sangat tidak setuju
2.      Tidak Setuju
3.      Ragu – ragu
4.      Setuju
5.      Sangat setuju

11.
Mengontrol kecemasan yang muncul ketika mengalami menarche
1.      Sangat tidak setuju
2.      Tidak Setuju
3.      Ragu – ragu
4.      Setuju
5.      Sangat setuju

12.
Menarche adalah perilaku seksual yang normal dan sehat sebagai bentuk pelampiasan seksual.
1.      Sangat tidak setuju
2.      Tidak Setuju
3.      Ragu – ragu
4.      Setuju
5.      Sangat setuju

13.
Mengontrol emosi dan sikap saat mengalami menarche
1.      Sangat tidak setuju
2.      Tidak Setuju
3.      Ragu – ragu
4.      Setuju
5.      Sangat setuju












             





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar